Widget HTML Atas

loading...

7 Tips Memilih Gaya Belajar Membaca bagi Balita

7 Tips Memilih Gaya Belajar Membaca bagi Balita


tips belajar membaca bagi balita
design by canva


Daftar isi:

1] Curhatan ala lithaetr soal balita yang bisa membaca

2] Tips memilih gaya belajar membaca bagi Balita



Assalamualaikum sahabat lithaetr, mari masuki dunia parenting, inspirasi, dan hiburan (musik, film, buku, dan drama Korea).


"Bun, Hiro enggak ikutan les? Lumayan diajarin membaca sama menulis, daripada di rumah enggak ngapa-ngapain." ujar tetangga x. 


"Bun, Alena sudah bisa membaca? Syarat masuk SD harus bisa membaca, lo." kata tetangga y.


Mungkin dua pertanyaan di atas sering dialami oleh para orang tua, yang anak-anaknya masih berusia balita atau usia pra sekolah. Anggapan kebanyakan orang tentang anak-anaknya yang bisa membaca itu pintar dan menjadi salah satu syarat agar bisa diterima SD, akhirnya membuat banyak orang tua yang memutuskan untuk mengajari anak-anak membaca sejak dini.


Tapi benarkah anak yang bisa membaca lebih awal, akan mempengaruhi kecerdasannya? Diambil dari sumber ibupedia.com, Psikolog anak dari Universitas Indonesia, Ratih Zuhaqqi, M. Psi, membantah anggapan tentang anak yang semakin dini bisa membaca, akan semakin tinggi tingkat kecerdasannya.


Ia berpendapat, tidak akan ada bedanya antara anak yang sudah bisa membaca di usia 4 tahun ataupun bisa membaca di usia 6 tahun. Hal tersebut, tak lantas membuat anak yang usianya 4 tahun lebih pintar dari teman-temannya yang sebaya ataupun yang lebih tua, karena belum bisa membaca.


"Anak belum memiliki kesiapan mental, walau secara daya pikir, anak usia 3 tahun pun bisa untuk diajarin membaca dengan penuh semangat. Idealnya, kembalikan hak anak kepada situasi yang sesuai dengan kondisi psikis anak, yaitu memang seharusnya membaca itu diajarkan di kelas 1 SD (7 tahun)," kata Ratih.


Tapi jika kita ingin anak-anak mencintai dan menikmati membaca ke depannya, kita perlu membangun proses pra membaca atau tahap belajar membacanya dengan menyenangkan. Oleh karena itu, kita perlu memilih dari beberapa metode belajar membaca yang ada. Mari kita mencari tahu kira-kira metode mana yang tepat dan terbaik, bagi anak-anak. Bagaimana caranya? Mari kita simak sama-sama penuturannya di sini.

Sebelum kita memilih metode belajar membaca yang tepat bagi anak-anak, ada baiknya orang tua juga perlu mengetahui tentang gambaran metode pembelajaran pendidikan yang ada saat ini. Dirilis dari id.theasianparent.com, ada 2 metode pembelajaran pendidikan, yaitu metode progresif dan konvesional, tapi saat ini, dunia pendidikan secara masif sedang menerapkan metode progresif sebagai sistem pembelajarannya. 


Apakah itu? 


Metode pembelajaran progresif dikenal dengan pembelajaran yang sedang tren saat ini. Salah satu tokoh yang terkenal menggunakan metode ini adalah dokter anak dari Italia, yang bernama Maria Montessori. Beliau terkenal karena "metode Montessori-nya" yang kemudian melahirkan sekolah Montessori di seluruh dunia.


Pendidikan progresif merupakan pendidikan yang memberikan kebebasan para peserta didik dalam belajar. Hal ini dikarenakan anak-anak diberikan kesempatan untuk membangun pengetahuan mereka sendiri. Caranya dengan melakukan, menemukan, dan menyimpulkan suatu pengetahuan dengan pendampingan guru tanpa terkesan menggurui.


Tujuannya, tentu saja agar anak-anak memiliki kemampuan memecahkan masalah mereka sendiri. Begitu pula halnya sama dalam penerapan yang diterapkan dalam metode belajar membaca. Harapannya anak-anak bisa menemukan sendiri huruf-huruf dan manfaat membaca bagi diri mereka.


Penulis Intan Noviana, M. Si, dalam bukunya "9 Langkah dalam 9 Hari Anak Balita Lancar Membaca dengan Metode Tanpa Mengejar", menyampaikan, selama ini ada anggapan keliru tentang proses belajar membaca. Kita, sebagai orang tua atau guru, menempatkan proses belajar membaca pada proses menghafal, misalnya menghafal huruf. Padahal anak, apalagi usia dini, sangat sulit menghafal, apalagi menghafal 26 abjad.


Oleh karena itu, ada beberapa tips yang bisa kita coba pergunakan ketika menemani anak-anak belajar membaca, dirangkum dari beberapa sumber, 


1] Tidak memperkenalkan huruf

Lo, kok tidak memperkenalkan huruf? Seperti sudah disinggung di atas, proses belajar membaca bagi anak-anak, jangalah menerapkan sistem menghafal. Jadi, jika ingin membuat anak mengetahui huruf-huruf abjad, lakukan kegiatan yang menyenangkan, yaitu dengan membiasakan anak-anak melihat huruf-huruf.

Metode ini mirip dengan sight word recognition, salah satu cara efektif untuk belajar huruf dan kata. Sight word recognition membantu anak belajar membaca di tahap awal dengan cara mengenalo dan mengamati kata yang paling sering digunakan, seperti nama anak sendiri, nama anggota keluarga (ayah, bunda, nama kakak dan adik), kegiatan aktivitas sehari-hari (makan, minum, dan lain sebagainya), dan lain-lain.


2] Memberikan buku bacaan sesuai dengan usia dan tahapan perkembangan anak


Jika target kita sebagai orang tua adalah membuat anak cinta dengan buku, memang sebaiknya kenali mereka dengan buku sejak awal. Penulis Buku Anak, Watiek Ideo, dalam kuliah online-nya, menyebutkan, kalau seorang penulis buku anak itu perlu mengenal segmen buku anak. Ada 5 segmen buku anak yang dibagi berdasarkan usia anak-anak.


a] Buku bayi (usia 0 sampai 2 tahun) 

Hal yang paling diutamakan pada pembuatan buku bayi adalah fokus kepada meningkatkan kemampuan sensori dan motori untuk bayi. Biasanya buku bayi akan memiliki raga tekstur dan bentuk, agar pembaca (bayi) bisa merasakan aneka sentuhan, mendengar bunyi-bunyian, bahkan terkadang dilengkapi area untuk digigit. Buku bayi biasanya hanya berisi satu kata sederhana saja dan dilengkapi satu gambar yang tidak terlalu detil. Bahan yang digunakan bisa dari kain, plastik (buku mandi), atau boardbooks. 


b] Buku balita (usia 3 sampai 5 tahun) 


Buku balita memiliki ilustrasi yang sangat dominan dibandingkan teks. Kalimat yang digunakan tidak lebih dari 1 kalimat saja. Bahkan biasanya cenderung diulang-ulang. Kadang, untuk menambah rasa tertarik, ada tambahan jendela, suara, dan lain-lain. Konflik yang dibangun juga sangat sederhana, bahkan kadang tidak ada konflik sama sekali.


c] Buku pembaca pemula (usia 6 sampai 8 tahun) 


Buku pembaca pemula masih memiliki ilustrasi yang dominan. Hanya saja teks yang digunakan sudah berupa 1 sampai 3 kalimat sederhana. Konflik-konflik ceritanya sudah mulai terbangun sehingga alur adalah unsur penting dalam buku ini. Biasanya berupa kejadian-kejadian sederhana di sekeliling.


d] Buku pembaca menengah (usia 9 sampai 10 tahun) 


Buku untuk pembaca menengah biasanya berupa buku berilustrasi. Teks-teks dan cerita sudah mulai lebih kompleks. Ilustrasi bersifat mendukung keseluruhan teks.


e] Buku pembaca level atas (usia 11 sampai 12 tahun) 


Buku untuk pembaca level ini memiliki teks yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Alur cerita yang terbangun biasanya akan merangsang daya berpikir anak dan ilustrasi gambarnya minim.


Yuk, kita kenalkan buku sesuai tahap perkembangan anak dan usianya, agar mereka bisa lebih menikmati proses belajar membacanya.


3] Belajar membaca dengan permainan gambar atau warna


Seorang pakar anak dari Amerika Serikat, Susan R. Johnson, MD., menyebutkan bahwa anak pertama kali belajar membaca berdasarkan huruf yang diasosiasikan kepada gambar tertentu. Misalnya, huruf 'O' yang berbentuk seperti donat atau huruf 'L' yang seperti buntut kucing, dan sebagainya.


Ia menjelaskan, hal itu dikarenakan otak kanan adalah yang berkembang terlebih dahulu. Di otak kanan itulah hal-hal yang berhubungan dengan sifat visual anak, seperti menggambar, mewarnai, dan segala hal yang berhubungan dengan dunia seni. Otak kanan ini mengalami puncak perkembangan saat usia anak menginjak 4 hingga 7 tahun, sehingga di usia itulah, dinilai sebagai waktu yang tepat bagi anak belajar membaca melalui permainan gambar atau warna.


4] Membacakan buku cerita di sela-sela waktu senggang


Setelah memilih buku sesuai tahapan perkembangan dan usia, sebaiknya kita, sebagai orang tua bisa membentuk kebiasaan membaca ini menjadi kapan saja dan di mana saja. Contohnya, menjadi ajang quality time keluarga sebelum tidur atau di sela-sela waktu luang anak-anak, seperti sedang melakukan perjalanan jauh dan menunggu giliran tunggu di restoran atau rumah sakit.


5] Ajak anak membaca apa saja, selain buku


Selain buku, kita juga perlu mengenalkan anak dengan media-media lain yang mengandung tulisan, seperti koran, majalah, papan reklame, dan lain sebagainya.


6] Temukan pesan moral dalam cerita


Agar anak-anak semakin belajar makna dari bacaannya, sekali-sekali ajak mereka untuk menemukan pesan moral dari cerita yang sudah dibaca bersama-sama. Ajak anak-anak untuk mendiskusikan hasil bacaan mereka, sehingga mereka juga bisa berperan aktif untuk mencari serta menggali sendiri kandungan dari setiap kisah.


7] Ganti waktu bermain gadget dengan membaca

Poin nomor tujuh ini, sangat penting bagi orang tua zaman now. Gadget adalah salah satu perjuangan yang harus kita bisa hindari. Nah, salah satu caranya adalah dengan menggiring mereka membaca lewat gadget, contohnya bisa membaca lewat aplikasi-aplikasi membaca digital yang ada.


Itulah 7 tips bagi orang tua dalam menentukan metode belajar membaca yang tepat bagi anak balitanya. Tidak pernah ada sekolah menjadi orang tua, tapi bukan berarti kita tidak bisa belajar untuk menjadi lebih baik dalam mendidik anak-anak, betul? 


Sumber referensi:




trlitha11 (lithaetr)
trlitha11 (lithaetr) Hai, saya IRT yang hobinya nulis dan senang berbagi ilmu. Ingin mengajak saya bekerjasama, silakan kirimkan saja email ke trlitha11@gmail.com atau whatsapp ke http://wa.me/628161977335

No comments for "7 Tips Memilih Gaya Belajar Membaca bagi Balita"

Berlangganan via Email