Widget HTML Atas

loading...

Mengenal Potensi Diri sebagai Manusia

Mengenal Potensi Diri sebagai Manusia

potensi diri
Design by: canva

"Aku percaya sama kamu, tapi aku tidak percaya iblis yang ada dalam dirimu," - dialog karakter Stella dalam film Italian Job.

Setiap manusia memang memiliki potensi untuk berbuat baik ataupun berbuat jahat


Assalamualaikum sahabat lithaetr, mari masuki dunia parenting, inspirasi, dan hiburan (musik, film, buku, dan drama Korea).


Setelah kita mempunyai sosok idola yang dijadikan teladan dan mengetahui pentingnya membaca dalam proses belajar, ada baiknya sebelum kita menuntut ilmu, marilah kita mendahulukan adab. Hal ini dimaksudkan agar ilmu yang kita pelajari bisa mendapatkan keberkahan dari Allah Swt. Oleh sebab itu, akan lebih baik lagi, jika kita bisa mengenal potensi diri yang dimiliki.


Dalam kehidupan ini, kita mendapati ada orang-orang yang berperilaku baik dan ada juga orang-orang yang berperilaku buruk. Akan sangat menyenangkan jika semua orang itu baik dan beriman, betul? Sehingga akan lebih mudah membentuk keteraturan dan ketaatan terhadap hukum. Tapi, mengapa ada orang-orang yang berperilaku buruk dan melakukan kesalahan? Hal tersebut dimaksudkan agar manusia belajar, berpikir, bertumbuh, dan memperbaiki diri, sehingga bisa menjadi lebih baik.


Berubah menjadi lebih baik dan semakin mahir sudah ada dalam fitrah manusia, yaitu fitrah belajar dan bernalar, serta fitrah perkembangan. Oleh karena itu, terciptalah sebuah pendidikan moral agar manusia bisa memperbaiki kesalahan atau bisa menyempurnakan kekurangan yang ada di dalam diri.


Yang demikian itulah yang harus diraih dari sebuah upaya menuntut ilmu dalam pendidikan, yaitu perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak disiplin menjadi disiplin. Dari malas menjadi rajin, dan seterusnya. Perubahan menjadi lebih positif inilah yang sering kita jumpai dan dapati dalam proses kehidupan ini. Baik dari sejak zaman sejarah hingga zaman masa kini.


Siapakah yang mengalami perubahan positif di zaman sejarah? Mari kita simak kelanjutan tulisan ini, ya.


Perubahan positif inilah juga yang terjadi pada beberapa sahabat Rasulullah Saw. Beberapa sahabat pernah menjalani hidup sebagai orang yang banyak berbuat jahat sebelum beriman kepada Allah Swt. , setelah memeluk agama Islam beberapa sahabat Nabi Muhammad Saw. tersebut menjadi orang-orang yang sangat beriman dan sangat patuh kepada Allah dan rasul-Nya.


Dari penjelasan itu dapat bisa diambil kesimpulan kalau dalam suatu masyarakat, ada orang yang baik dan terdapat juga orang yang berperilaku buruk. Maka diperlukan pembinaan agar orang yang sudah baik, senantiasa tetap terpelihara di dalam kebaikan. Sementara bagi yang berperilaku buruk, tetap diberikan pembinaan juga, agar suatu saat bisa berubah menjadi orang yang baik.


Mengapa demikian? Sebab, selalu ada kebaikan di dalam diri setiap manusia. Di dalam diri setiap orang terdapat potensi kebaikan, sebagaimana juga ada potensi keburukan. Jika, kita masih melakukan perilaku-perilaku buruk, maka perlunya kita dibina dengan baik, agar potensi kebaikankita bisa muncul ke permukaan. Mungkin awal-awal masih melakukan sedikit kebaikan kecil, namun jika dilakukan terus menerus, kebaikan itu pun lama kelamaan akan semakin besar, dan jadilah kita sudah menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.


Sebelum kita belajar dan menyingkap rahasia bagaimana tumbuh kembang Rasulullah Saw., sehingga memiliki kepribadian Islam yang mengagumkan, ada baiknya kita perlu meyakinkan diri sendiri, bertekad kuat untuk mau berubah menjadi lebih baik dengan potensi kebaikan diri yang telah dimiliki. Sehingga yang perlu kita lakukan sebagai orang tua dalam mendidik anak-anak adalah dengan mengenalkan dan mengajarkan kebaikan-kebaikan, agar potensi kebaikan anak tetap terjaga sesuai fitrahnya.


Di dalam diri manusia ada potensi kebaikan dan keburukan, ternyata sudah dijelaskan dalam Al-Quran surah Asy-Syams ayat 7 sampai 10 yang artinya, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
Selain dalam surah Asy-Syams, ternyata juga terdapat dalam surah Al-Balad ayat 10 yang artinya, “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (jalan kebajikan dan jalan kejahatan).”


Seorang intelektual, sastrawan, dan penulis kitab tafsir Sayyid Qutb menjelaskan, “Manusia adalah makhluk dua dimensi dalam tabiatnya, potensinya, dan dalam kecenderungan arahnya. Yang demikian itu karena ciri penciptaannya sebagai makhluk yang tercipta dari tanah dan hembusan ruh Ilahi, membuatnya memiliki potensi yang sama dalam kebajikan dan keburukan, dalam petunjuk dan kesesatan. Manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dia mampu mengarahkan dirinya menuju kebaikan atau keburukan, dalam kadar yang sama.”


Dengan demikian, di dalam diri manusia ada potensi kebaikan dan keburukan. Keduanya memiliki kadar kekuatan yang sama. Dari kedua kecenderungan itu, manusia memerlukan kemampuan dalam dirinya dan stimulus dari sekitarnya, agar yang mendominasi perilaku dan pemikirannya adalah potensi kebaikannya. Memang diperlukan berbagai upaya untuk mengarahkan potensi kebaikan ini, namun jika kebaikan ini telah menghiasi hati dan jiwanya, serta mendominasi perbuatannya, maka manusia ini sudah menjadi orang yang baik dan bertakwa.


Begitu pun sebaliknya, jika manusia tidak mampu mengarahkan dan mengoptimalkan kebaikan dalam diri, maka potensi kebaikan itu akan dikalahkan oleh potensi keburukan. Apabila potensi keburukan ini lebih menghiasi hati dan jiwanya, serta mendominasi perbuatannya, maka manusia ini sudah menjadi pelaku yang berbuat keburukan dan kesesatan. Nauzubillah min dzalik.


Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. Al-Insan: 3).
Semoga kita termasuk orang-orang yang ditunjukkan jalan yang lurus dan bersyukur karenanya, aamiin. Dari penjelasan tersebut, upaya pembinaan diri menjadi penting dan merupakan suatu keharusan, baik melalui pendidikan yang bersifat formal maupun tidak formal. Baik dilakukan secara lembaga, maupun oleh diri sendiri. Dengan adanya upaya pembinaan diri ini diharapkan potensi kebaikan dalam diri bisa dimunculkan secara terus menerus, sehingga terwujudlah sebuah karakter.


Upaya pendidikan dan pembinaan oleh orang lain terhadap diri kita, adalah suatu hal yang penting, namun kesadaran dan keinginan untuk berubah menjadi lebih baik yang timbul dari dalam diri sendiri lebih penting dan utama. Sebab betapa pun baiknya upaya pembinaan yang dilakukan oleh orang lain, tapi tidak didukung oleh adanya kesadaran diri untuk berubah lebih baik, maka akan sulit mencapai hasil yang diharapkan.


Mengetahui potensi kebaikan dan keburukan di dalam diri manusia ini sesungguhnya dimaksudkan agar kita semakin paham kalau menuntut ilmu, membina diri, dan melakukan kebaikan-kebaikan harus dilakukan secara terus menerus, agar tercipta karakter dan kebiasaan berperilaku baik. Dengan demikian, sudah sebaiknya kita memiliki pengetahuan tentang kebaikan. Lalu, dari mana dan atas dasar apa kita menilai serta mengetahui bahwa sesuatu atau suatu perkara itu merupakan kebaikan atau sebaliknya?
Talitha (Lithaetr)
Talitha (Lithaetr) Mantan wartawan dan asistant produser yang menjelma menjadi ibu rumah tangga. Saat ini sedang tekun menjadi penulis, trainer parenting, dan belajar design. Mau bekerjasama dengan saya silakan email ke talitha.1988@gmail.com atau whatsapp ke http://wa.me/628161977335

2 comments for "Mengenal Potensi Diri sebagai Manusia"

  1. Kalau dikasi pake Surah Asy Syams juga pas. Bahwa dalam diri manusia itu ada potensi fujur dan taqwa nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah mba Mia, semakin salut lah diriku kepadamu. Sama-sama terus belajar kita ya, mbak ☺❤

      Delete

Post a Comment

Silakan berikan tanggapan, saran, dan kritiknya ya sahabat 🙏

Berlangganan via Email